Postingan

PILPRES (TAK) SENSUS

Gambar
Oleh: Moh Halil Pilpres tinggal menghitung bulan, kandidat presiden dan wa kil presiden Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi telah melancarkan berbagai strateginya untuk mengambil hati para konstituen. Dan separuh perjalanan kampanye politik telah dilalui bersama, namun belum menyentuh hal-hal yang substansial. Perdebatan yang disuguhkan kedua kubu masih terjebak pada kosakata-kosakata bombastis, narasi-narasi yang dangkal dan bahkan hanya memperebutkan klaim-klaim seperti paling agamis maupun paling nasionalis. Perdebatan-perdebatan suputar itulah lebih ditonjolkan daripada berbicara visi-misi dan program kerja. Di tengah kampanye politik yang kurang substansial, ada hal menarik yang menjadi referensi seseorang ikut kecenderungan mayoritas ke mana arah mata angin bergerak biar dianggap paling nasionalis dan seterusnya . Gambaran perilaku pemilih seperti ini dapat disebut pilpres sensus. Sebagaimana dijelaskan Irving Louis Horowitz dalam buku The Politics of Mass Society d...

R.A. Kartini dan Pertanyaan Gadis Manisku

Ada pertanyaan menarik ketika tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini dari beberapa teman-teman dan juga dari gadis manisku di seberang jauh. Pertanyaannya ialah seputar kenapa harus Kartini yang diangkat menjadi pahlawan, kenapa bukan perempuan lain. Toh perempuan-perempuan yang bisa dijadikan contoh sebagai pahlawan berserakan di Nusantara ini.

Efek (Jera) Hukuman Mati

Delapan dari sembilan terpidana mati Balinine telah diekskusi di Nusakambangan pada 29 April 2015. Delapan terpidana yang sudah dieksekusi yaitu: WN Australia Andrew Chan, WN Australia Myuran Sukumaran, WN Nigeria Martin Anderson, WN Nigeria Raheem Agbaje, WN Brazil Rodrigo Gularte, WN Nigeria Sylvester Obiekwe Nwolise, WN Nigeria Okwudili Oyatanze, dan WN Indonesia Zainal Abidin.

Rakyat penentu arah bangsa

“IA selalu melihat output. Ia lebih mementingkan siapa yang memenangkan pemilihan, bukan bagaimana pemilihan berlangsung, siapa yang diuntungkan, bukan bagaimana hukum harus berjalan.” (Gabriel A. Almound dan Sidney Verba dalam bukunya “Budaya Politik”).